MYUNGZY Fanfic MY LOVELY GIRL Chapter 4

ar87567

Made : 2 Mei 2014

Author : Arwiny Ramadhani

Genre : Comedy, Romance and School life

Main Cast :

– Bae Sooji

– Kim Myungsoo

Other cast:

Find by yourself ^-^

The story : Inspired by some novels and korean dramas

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Untuk tokoh Bae Suzy, Kim Myungsoo dan artis lainnya bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga dan agensi mereka. Author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.

Happy reading all..!!  ^-^9

And Sorry for typos 😀

CHAPTER 4

Sooji dan kedua temannya baru saja duduk di salah satu meja di kantin sekolah. Sampai kemudian, seseorang duduk di hadapan Ga young tepat di samping Sooji.

“Boleh aku bergabung?” Tanya Changmin.

“Geureom” balas Ga young sambil tersenyum.

“Heish, yaak kali ini jangan bermesraan dulu sunbae. Kami ingin makan” ucap Eunji santai.

“Eunji” Ga young mencubit lengan Eunji karena malu.

“Appo” Eunji meringis kesakitan sambil terus mengelus lengannya yang sakit, sedangkan ketiga orang di meja hanya terkekeh.

“Halo semua” seseorang langsung duduk tepat di samping Eunji.

“Yaak, menyingkirlah” ucap Eunji mendorong tubuh namja itu, Yoseob.

“Tidak ada tempat lain” jawab Yoseob dengan tampang polosnya.

“Heish, kau duduk di samping Sooji saja” ucap Eunji menatap kesal Yoseob. Namun saat Yoseob hendak berpindah tempat, tiba-tiba Myungsoo sudah lebih dulu duduk di samping Sooji.

“Tidak jadi. Myungsoo sudah mengambilnya lebih dulu” ucap Yoseob terkekeh membuat Eunji mendengus kesal.

“Ah molla” Eunji melanjutkan makannya.

“Myungsoo, kau makan di sini? Biasanya kan kau makan dengan yeoja-yeoja itu” tanya Yoseob polos namun Myungsoo melemparkan tatapan tajamnya ke arah Yoseob sedangkan Yeoseob hanya bergidik ngeri.

“Cepat habiskan makananmu. Lalu ikut aku” ucap Myungsoo pada Sooji sambil menyeruput es jeruk yang dipesannya.

“Ah arraseo” jawab Sooji kembali melanjutkan makannya

“Aigo, ternyata pasangan saingan ini berubah menjadi partner ya?” Ucap Eunji meledek, sedangkan orang yang diledek hanya tersenyum simpul.

***

Sooji dan Myungsoo sudah berada di perpustakaan, mereka sedang belajar untuk persiapan lomba. Mencari soal-soal dan mengerjakannya adalah kegiatan mereka belakangan ini.

Sore itu, Myungsoo sudah berjanji akan ke rumah Sooji untuk belajar.

Deng dong…

Nyonya bae membuka pintu dan tampaklah seorang namja sedang berdiri dengan beberapa buku di tangannya.

“Myungsoo-ah, masuklah” ucap Nyonya bae mempersilahkan Myungsoo untuk masuk.

“Tunggu di sini ne. Aku panggil Sooji dulu” ucap Nyonya bae meninggalkan Myungsoo di ruang tv rumahnya.

Tak lama kemudian…

“Kau sudah datang?” Sooji baru saja turun dari tangga, di tangannya sudah terdapat laptop dan beberapa buku.

“Eo, baru saja” jawab Myungsoo. Sooji sudah duduk tepat di samping namja itu.

“Oh iya, aku sudah menemukan soal-soal lomba tahun lalu. Kita bisa memakainya untuk latihan” ucap Sooji sambil memainkan jemarinya di keyboard laptopnya.

“Coba kulihat” Myungsoo mendekat dan memperhatikan deretan-deretan soal di laptop Sooji.

“Kita kerja soal kimia dulu” ucap Myungsoo mulai membuka bukunya dan lembaran-lembaran kertas yang ia satukan sebagai buku cakarannya.

“Baiklah, aku akan mengerjakan soal yang ini” Sooji juga ikut mengerjakan soal-soal. Mereka berdua terlihat sibuk mengerjakan soal-soal itu.

Selang beberapa menit…

“Emm…Myungsoo-ah” Sooji melirik Myungsoo, lantas Myungsoo menghentikan kegiatannya lalu balik menatap Sooji.

“Mwo?”

“Ini..bagaimana cara menyelesaikannya? Aku sudah mendapatkan jawabannya tapi kenapa tak ada di pilihan jawabannya?” Jelas Sooji sambil menunjukkan sebuah soal yang tadi dikerjanya.

“Biar kucoba” Myungsoo mengambil cakaran dari Sooji lalu memperhatikannya dan mengerjakannya kembali. Menit berikutnya.

“Jawabannya c, tadi kau salah dalam membalik rumusnya” ucap Myungsoo dan dibalas anggukan mengerti dari Sooji.

“Ah begitu ya?” Sooji menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Aigo, nanti dulu belajarnya. Kalian makan ini dulu ne” Nyonya bae baru saja datang sambil membawa nampan berisi sepiring kue pie dan dua gelas susu cokelat.

“Myungsoo, makan kuenya ne. Dan ingat, kalian jangan berpikir terlalu keras, arratchi?” Tanya Nyonya bae dan dibalas anggukan oleh Sooji dan Myungsoo.

“Aku ke dapur dulu ne” ucap Nyonya bae.

“Ne, gomawo eommonim” ucap Myungsoo.

“Makanlah” ucap Sooji yang lebih dulu menyambar kue pie ibunya.

“Eo” Myungsoo mulai memakan pie itu, sambil sesekali memperhatikan soal-soal di layar laptop.

“Huuft, lombanya tinggal seminggu lagi” Sooji menghela napasnya. Ia tak sabar dengan lomba itu. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya, apakah soalnya akan sulit? Apakah ia bisa menjawabnya? Apakah banyak saingannya di sana? Dan bagaimana jika ia kalah?

“Gwenchana, kita sudah bekerja keras kan” ucap Myungsoo sambil tersenyum.

Deg~

Tiba-tiba jantung Sooji berdegup kencang, membuat pie yang makannya tertelan bulat-bulat.

“Uhuuk…uhuuk…” Sooji terbatuk-batuk.

“Gwenchana?” Myungsoo menepuk pundak Sooji berusaha membantunya. Ia mengambil minuman itu lalu membantu Sooji meminumnya.

“Sudah baikan?” Tanya Myungsoo.

“Eo, gwenchana” jawab Sooji menghembuskan nafasnya berusaha tenang.

Seminggu kemudian, hari yang sangat dinantikan oleh Sooji dan Myungsoo, kini mereka berada di mobil Kang saem, ialah yang menemani mereka untuk mengikuti lomba cerdas cermat tahun ini. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat itu. Para peserta sedang menunggu di ruang tunggu, begitupun dengan Sooji dan Myungsoo, mereka berdua tengah duduk. Sooji terlihat gugup ia hanya terus memainkan jemarinya berusaha agar tetap tenang.

Sooji merasakan sesuatu yang hangat menggenggam tangannya. Itu tangan Myungsoo, Sooji berbalik dan menatap namja itu.

“Tenanglah, kita sudah berusaha, jadi lakukan saja sebisa kita” ucap Myungsoo sambil tersenyum. Entah mengapa bagi Sooji ucapan Myungsoo itu sungguh merdu di telinganya, membuat rasa gugupnya perlahan meredah, entah mengapa hanya dengan genggaman Myungsoo membuat dirinya merasa tenang, membuat dirinya merasa tak takut dengan apa yang akan terjadi nantinya, ia merasa aman saat tangan hangat Myungsoo menggenggamnya.

Pembawa acara itu sudah memasuki sebuah panggung. Para peserta diminta untuk naik dan dipersilahkan duduk, terlihat cukup banyak peserta yang ikut.

Acarapun dimulai, tahap pertama dari lomba itu dimulai, pembawa acara itu membagikan lembar soal kepada peserta dan meminta mereka menjawabnya sampai waktu yang telah ditentukan, dan sepuluh sekolah dengan nilai tertinggi akan ikut ke tahap berikutnya.

Sooji dan Myungsoo mulai mengerjakan soal-soal itu dengan tenang, begitupun dengan peserta dari sekolah yang lain.

“Baiklah, para Juri sudah memutuskan sepuluh sekolah yang boleh mengikuti tahap selanjutnya. Yaitu….SM High School, Jung Sang High School, Sandang Gangnam High School, Dong Joo High School, Kirin High School, Hyodou High School, Genie High School, Il Sang High School, Dream High School, dan Woolim High School.” Ucap pembawa acara itu, ia menyebutkan sepuluh sekolah yang masuk ke tahap berikutnya dari dua puluh lima sekolah yang ikut lomba tersebut. Sooji dan Myungsoo tersenyum senang karena sekolah mereka bisa ikut pada tahap selanjutnya.

Beberapa menit kemudian, tahap selanjutnya di mulai. Seperti ditahap yang sebelumnya, peserta diberikan lembaran soal dan diminta untuk mengerjakannya, namun waktunya lebih sedikit dibandingkan waktu pada tahap awal dan juga tingkat kesukaran soalnya juga ditingkatkan. Sooji dan Myungsoo mulai mengerjakan soal itu, bukan hanya mereka yang berpikir keras, tapi juga peserta yang lain. Mereka terlihat berpikir mencari jawaban yang tepat namun dengan cara yang lebih cepat.

Satu jam telah berlalu pertanda bahwa tahap kedua pada lomba cerdas cemat kali ini sudah selesai. Setiap jawaban dikumpul lalu diperiksa oleh para juri di ruangan khusus. Tampak di belakang pangggung, para peserta kembali gugup dan gelisah menunggu hasilnya.

Beberapa menit kemudian, pembawa acara itu keluar dengan membawa secarik kertas berisi lima sekolah yang boleh ikut ke tahap selanjutnya.

“Saya umumkan, sekolah yang masuk lima besar dalam lomba cerdas cermat tahun ini adalah….Genie High School, Kirin High School, SM High School, Woolim High School, dan Dream High School” ucap pembawa acara itu dan disambut tepuk tangan dari para penonton.

“Huuft,Baiklah, aku sudah melewati dua tahap lomba ini. Aku harus terus berjuang, demi sekolah dan demi…” Sooji menggantungkan kalimatnya lantas ia menatap Myungsoo yang sedang tersenyum saat pembawa acara itu menjelaskan tahap selanjutnya.

Tahap ketiga telah selesai, peserta yang tersisa tinggal 3 pasangan dari sekolah SM High School, Kirin High School dan Woolim High School. Mereka akan mengikuti perlombaan terakhir, pembawa acara akan menyebutkan soal kepada mereka dan peserta yang lebih dulu menekan tombol merah akan berkesempatan menjawab lebih dulu.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh si pembawa acara, tak banyak dari soal itu yang merupakan perhitungan sehingga memberi mereka waktu untuk mengerjakannya terlebih dahulu.

TBC
don’t be silent readers, please ^^

MYUNGZY Fanfic MY LOVELY RIVAL Chapter 3

ar87567

Made : 2 Mei 2014

Author : Arwiny Ramadhani

Genre : Comedy, Romance and School life

Main Cast :

– Bae Sooji

– Kim Myungsoo

Other cast:

Find by yourself ^-^

The story : Inspired by some novels and korean dramas

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Untuk tokoh Bae Suzy, Kim Myungsoo dan artis lainnya bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga dan agensi mereka. Author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.

Happy reading all..!!  ^-^9

And Sorry for typos 😀

Chapter 3

Sooji baru saja keluar dari kamar mandi, di depan cermin ia mengeringkan rambutnya yang basah.

“Mau ke mana dia? Rapi sekali” Sooji tak sengaja melihat seorang namja melalui jendelanya, namja itu-Myungsoo-sedang berdiri di depan cermin kamarnya, sepertinya namja itu sedang memperhatikan penampilannya sekarang. Tiba-tiba Myungsoo berbalik dan sontak Sooji membalikkan badannya berpura-pura tak melihatnya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Myungsoo.

“Aku? Aku tak sengaja melihatmu berdiri di depan cermin. Maaf, bukannya ikut campur, tapi kau mau ke mana?” Tanya Sooji yang penasaran.

“Kencan” jawab Myungsoo singkat.

“Aigo, sampai kapan kau seperti itu? Kau harus memilih salah satu dari mereka” ucap Sooji menasehati.

“Aku hanya ingin bersenang-senang” jawab Myungsoo polos.

“Huuft, sebagai seorang namja kau harus menghargai perasaan yeoja” ucap Sooji mendengus kesal.

“Kenapa kau memaksaku? Kau cemburu?” Myungsoo memperlihatkan senyum evilnya pada Sooji.

“Yang benar saja. Maldo andwe” ucap Sooji sambil menyilangkan kedua tangannya berbentuk X. Namun Myungsoo terus menatapnya.

“Heish, sudahlah. Lakukan sesukamu” Sooji mendengus kesal lalu menutup jendela kamarnya.

***

Di kelas 2-1, seperti biasa mereka mengikuti proses belajar mengajar. Dan seperti hari-hari biasanya, hampir di setiap test ataupun kuis Sooji dan Myungsoo selalu mendapat nilai tertinggi di kelas.

Tak terasa sebulan lamanya Sooji belajar di sekolah itu. Entah mengapa, menganggap namja itu sebagai saingannya seperti memberinya motivasi untuk semakin giat belajar.

Teng teng teng teng teng…

Bel berdering pertanda bahwa pelajaran Jang saem berakhir, membuat murid 2-1 bernapas lega karena bisa segera keluar untuk istirahat.

“Kim Myungsoo” seorang murid berdiri di ambang pintu kelas 2-1, membuat semua murid menatap namja yang kini berdiri.

“Mwo?” Tanya Myungsoo cuek.

“Kau dipanggil Park saem” jawab namja itu.

“Baiklah” Myungsoo berdiri dari tempatnya.

“Dan juga Sooji” ucap namja itu melanjutkan kalimatnya. Myungsoo mengernyitkan alisnya lalu berbalik menatap Sooji, Sooji mengidikkan bahunya karena tak tahu apa-apa. Namun ia segera berdiri dan berjalan mengikuti Myungsoo dari belakang.

***

“Saem memanggilku?” Tanya Myungsoo saat sampai di ruang wakil kepala sekolahnya itu.

“Ne, duduklah” ucap Park saem wakil kepala sekolah, tak heran dia juga memiliki ruangan khusus seperti kepala sekolah. Sooji dan Myungsoo mulai duduk.

“Begini, bulan depan lomba cerdas cermat akan dilaksanakan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap sekolah memilih dua orang untuk mewakili. Dan dari rapat kemarin, semua guru sudah memutuskan bahwa akan memilih kalian berdua untuk mengikuti lomba itu” jelas Park saem sambil menyerahkan sebuah surat berisi keputusan pemerintah setempat.

“Aku juga ikut?” Sooji tak percaya, ternyata dia yang ditunjuk mewakili sekolahnya. Padahal ia baru sebulan bersekolah di sini.

“Ne, kalian berdua akan ikut. Jadi, kami sebagai guru berharap agar kalian berusaha semaksimal mungkin untuk lomba ini. Aku sudah mengatakan pada guru bidang studi kalian bahwa kalian berdua boleh tidak diikutkan pelajaran jika kalian butuh belajar di perpustakaan” jelas Park saem.

“Jadi, kalian setuju kan?” Tanya Park saem dengan wajah serius. Sooji berbalik melihat Myungsoo.

“Aku setuju” jawab Myungsoo mantap.

“Baguslah, bagaimana denganmu murid Bae?” Tanya Park saem mengalihkan pandangannya pada Sooji.

“Aku…aku setuju” jawab Sooji mengangguk mantap.

“Waah, syukurlah. Terima kasih ne. Baiklah kalian boleh keluar. Jangan lupa persiapkan diri kalian” ucap Park saem bernapas lega.

“Ne” jawab Myungsoo dan Sooji hampir serempak. Mereka menundukkan kepalanya lalu berjalan keluar.

“Huuft” Sooji menghela napas berat saat keluar dari ruangan itu.

“Wae?” Myungsoo yang mendengar napas berat Sooji berbalik dan menatap yeoja itu.

“Ani. Hanya saja selama ini aku selalu bersaing denganmu, tapi sepertinya kita harus kerja sama” jawab Sooji datar.

“Jadi, kau tidak mau?”

“Ini demi sekolah” jawab Sooji datar

“Aku juga, ini hanya demi sekolah. Sebenarnya aku tak ingin bekerja sama dengan yeoja cerewet sepertimu” jelas Myungsoo santai.

“Mwo?! Yaak, kau pikir aku mau bekerja sama dengan namja yadong sepertimu?!” Ucap Sooji tak ingin kalah. Sooji berjalan lebih cepat agar meninggalkan namja itu, namun Myungsoo bisa menyeimbangkan langkahnya dengan Sooji. Ia menarik tangan yeoja itu.

“Yaak, lepaskan!” Sooji berusaha melepas genggaman Myungsoo, namun sepertinya kekuatannya lebih kecil dibanding namja itu.

“Kajja” Myungsoo menarik tangan Sooji, mau tidak mau Sooji ikut karena tidak bisa melepaskan tangan namja itu.

“Mwoya?!” Sooji akhirnya bisa melepas genggaman Myungsoo.

“Ssst, jangan ribut” ucap Myungsoo menyuruh Sooji untuk diam, pasalnya mereka sedang berdiri di pintu perpustakaan sekarang.

“Appo” Sooji mengelus pergelangan tangannya yang memerah karena tangan namja itu.

“Bukankah Park saem menunjuk kita untuk mengikuti lomba itu? Kajja kita masuk” Myungsoo kembali menarik tangannya Sooji.

“Aku bisa jalan sendiri” ucap Sooji menepis tangan namja itu. Saat mereka ingin masuk ke perpustakaan, tiba-tiba seorang yeoja menghampiri mereka.

“Annyeong oppa” jawab yeoja itu sambil bergelayut manja di lengan Myungsoo.

“Naeun? Waeyo?” Tanya Myungsoo yang sepertinya merasa biasa saja dengan perlakuan yeoja itu.

“Kita ke kantin ne” ajak Naeun pada Myungsoo.

“Baiklah, kajja” Myungsoo berjalan bersama yeoja itu. Namun langkahnya terhenti, ia berbalik dan menatap yeoja yang sedang berdiri di depan perpustakaan itu-Sooji

“Sooji-ah, nanti saja belajarnya” jawab Myungsoo santai lalu kembali melanjutkan jalannya dengan yeoja itu. Sooji terperangah melihat tingkah namja itu.

“Mwo? Dasar namja yadong” Sooji menghentakkan kakinya karena kesal.

“Menyebalkan sekali, tadi dia yang memaksaku ke sini, tapi saat yeoja itu datang ia langsung meninggalkanku? Aigo kenapa malang sekali nasibku ini” Sooji menggerutu kesal, perlahan ia menghembuskan napasnya berusaha tenang. Baiklah, ia mulai masuk ke perpustakaan itu, menurutnya ia bisa belajar tanpa namja itu.

***

Sooji sudah menemukan buku yang dicarinya, buku berisi soal-soal.

“Annyeong” sahut seorang namja yang baru saja duduk di depan Sooji, mata Sooji yang tadinya fokus dengan bukunya lalu mendongakkan kepalanya dan menatap namja itu sambil mengernyitkan alisnya, sepertinya ia belum pernah melihat namja ini.

“Kau…berbicara padaku?” Tanya Sooji sambil menunjuk dirinya. Ia berbalik kiri dan kanan namun memang tak ada orang lain di meja itu selain dia dan namja itu.

“Tentu saja. Aku Won ho, Shin Won ho murid kelas 2-2. Kau Bae Sooji kan?” Tanya namja itu sambil mengulurkan tangannya.

“Ne, aku Sooji” jawab Sooji menjabat tangan namja itu. “Maaf, tapi…apa aku mengenalmu?” Tanya Sooji tak bermaksud cuek.

“Oh, aniyo. Kau memang tak mengenalku, tapi aku mengenalmu” ucap Won ho sambil tersenyum.

“Benarkah? Apa kita teman sekolah waktu kecil? Apa dulu kau sekolah di Gwangju? Ah mianhe, aku sama sekali tidak mengingatmu” ucap Sooji merasa tak enak, namun Wonho hanya tersenyum.

“Bukan begitu. Tapi, siapa murid yang tak kenal Bae Sooji, saingan Kim Myungsoo” ucap Wonho dan mendapat anggukan mengerti dari Sooji.

“Oh arra, begitulah. Entah kenapa aku ingin sekali mengalahkan namja itu” ucap Sooji menerawang. Ia sedang membayangkan senyum menyebalkan namja itu.

“Waeyo?” Tanya Wonho ingin tau.

“Dia sombong sekali. Dan yang terpenting dia adalah namja yadong” ucap Sooji. Wonho terkekeh mendengarnya.

“Begitu ya? Aku juga berpikir begitu. Dan juga semua murid” jawab Won ho.

“Dan anehnya, yeoja-yeoja itu tak merasa terpengaruh, mereka tetap saja mengejar namja itu, ckckck” ucap Sooji menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Oh iya, kau sedang apa?” Tanya Won ho yang melihat sebuah buku dan beberapa kertas di depan Sooji.

“Ah ini, aku sedang mengejarkan soal-soal untuk persiapan lomba”

“Lomba?” Won ho terlihat bingung.

“Eo, baru saja Park saem meminta aku dan Myungsoo untuk mewakili sekolah pada lomba cerdas cermat bulan depan” jelas Sooji.

“Kau dan Myungsoo? Lalu di mana namja itu?” Tanya Won ho sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Myungsoo.

“Dia tidak di sini. Mungkin sedang bermesraan dengan yeoja-yeoja itu” jawab Sooji cuek.

“Hehehe…kau maklumi saja dia. Dan maaf, sepertinya aku tak bisa membantumu” ucap Won ho sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Gwenchana, menemaniku di sini saja itu sudah membantu” jawab Sooji sambil tersenyum.

“Tunggu di sini” Wonho beranjak dari kursinya. Sooji hanya mengidikkan bahunya lalu kembali fokus pada buku soal dan lembaran kertas yang ia minta pada petugas perpustakaan untuk mengerjakan soal-soal itu. Beberapa menit kemudian Wonho datang.

“Ige, minumlah” ucap Wonho menyerahkan sekotak susu di hadapan Sooji.

“Wah, gomawo. Aku suka susu cokelat” ucap Sooji yang matanya berbinar melihat minuman favoritnya.

“Jjinja? Aku juga” ucap Wonho tersenyum.

“Ternyata seleramu sama denganku” ucap Sooji sambil terkekeh. Sooji meminum susu cokelatnya lalu kembali fokus mengerjakan soal-soalnya, sedangkan Wonho dengan setia memperhatikannya dengan tenang. Kadang ia tersenyum melihat wajah Sooji yang terlihat bingung ataupun berpikir keras saat mengerjakan soal itu.

“Jangan berpikir terlalu keras. Nanti kau sakit” ucap Wonho menasehati, Sooji hanya terkekeh. Tiba-tiba seseorang menggenggam tangan Sooji.

“Yaak, mwoya?” Sooji melemparkan tatapan tajamnya pada namja itu, Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan dengannya?” Tanya Myungsoo menatap tajam Wonho.

“Dia menemaniku mengerjakan soal. Tak seperti seseorang yang dengan tega meninggalkanku hanya untuk bersenang-senang” ucap Sooji yang sedang menyindir Myungsoo.

“Ikut aku” Myungsoo menarik tangan Sooji.

“Kim Myungsoo, bersikap lembutlah padanya, dia itu seorang yeoja” ucap Won ho yang habis kesabaran melihat Myungsoo menarik tangan Sooji, sedangkan Sooji mengangguk setuju.

“Bukan urusanmu. Dia partnerku, jangan campuri urusan kami” ucap Myungsoo kembali menarik tangan Sooji, dengan sigap Sooji menyambar buku serta kertasnya lalu pergi, sekilas ia menatap Wonho seolah mengatakan untuk tidak mengkhawatirkannya.

***

“Apa yang kau lakukan, eoh? Berduaan dengan namja itu?” Ucap Myungsoo menatap Sooji dengan mata tajamnya itu. Saat ini mereka berada di atap sekolah.

“Mwo? Naega? Lalu bagaimana denganmu? Bukankah tadi kau memaksaku ke perpustakaan? Kau bahkan meninggalkanku saat kau diajak yeoja itu ke kantin. Jadi di sini siapa yang seharusnya memarahi siapa, eoh?” Sooji terlihat kesal, ia juga memberikan tatapan tajam pada namja di depannya itu.

“Kau…heish, sudahlah” Myungsoo duduk dan bersandar di kotak besar itu. Sooji mendengus kesal.

“Lihat, kau bahkan tak bisa mengelak perkataanku kan? Itu tandanya kau memang salah” ucap Sooji tak ingin menatap namja itu.

“Terserah. Aku hanya tak ingin kau dekat namja itu. Ani, tapi semua namja selain aku” ucap Myungsoo yang suaranya hampir tak terdengar.

“Mwo? Kau bilang apa?” Sooji berbalik dan menatap Myungsoo.

“Lupakan” ucap Myungsoo datar.

“Lalu, untuk apa kau membawaku ke sini?” Sooji ikut duduk di samping Myungsoo dan ikut bersandar di kotak itu.

“Keunyang” jawab Myungsoo tanpa menatap Sooji.

“Kau ini! Seharusnya aku sedang di perpustakaan sekarang, mengerjakan soal-soal itu sambil ditemani oleh Wonho” gerutu Sooji.

“Kau menyukainya?” Myungsoo berbalik dan menatap Sooji lekat.

“Ani” jawab Sooji singkat.

“Kalau begitu, tetaplah di sini” ucap Myungsoo kembali menatap lurus ke depan. Sooji mendengus kesal, namun akhirnya mengangguk juga. Myungsoo mengeluarkan earphonenya lalu memasangnya di telinganya ia menghubungkannya dengan ponselnya. Sedangkan Sooji hanya terus menatap lurus, entah apa yang ia pikirkan.

Myungsoo melepas salah satu earphonenya lalu memasangnya di telinga Sooji, Sooji berbalik menatap namja itu.

Deg~

“Apa ini? Apa aku sedang gugup?” Batin Sooji, ia merasa sesuatu berdetak cepat di dalam tubuhnya, tanpa perlu berpikir panjang ia sudah tahu bahwa sesuatu itu adalah jantungnya. Ya, jantungnya berdetak cepat saat ini, entah mengapa saat namja itu memasang earphonenya ke telinga Sooji, membuat Sooji tiba-tiba gugup, ditambah saat menatap manik mata namja itu membuat debaran jantung Sooji semakin cepat.

Myungsoo yang melihat Sooji menatapnya membuat sudut bibirnya terangkat membuat seulas senyuman. Baiklah, jantung Sooji semakin berdetak cepat saat melihat senyuman namja itu. Bukan senyuman evil yang dibenci Sooji melainkan senyuman tulus yang belum pernah Sooji liat dari wajah tampan namja itu. Eh? Tampan? Sooji berpikir begitu? -_-?!

TBC
don’t be silent readers, please ^^

MYUNGZY Fanfic MY LOVELY RIVAL Chapter 2

Made : 2 Mei 2014

Author : Arwiny Ramadhani

Genre : Comedy, Romance and School life

Main Cast :
– Bae Sooji
– Kim Myungsoo

Other cast:
Find by yourself ^-^

The story : Inspired by some novels and korean dramas

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Untuk tokoh Bae Suzy, Kim Myungsoo dan artis lainnya bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga dan agensi mereka. Author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.

Happy reading all..!! ^-^9

And Sorry for typos 😀

Sooji berjalan malas membuka pintunya.

Cklek..

“Neo..” Pekik namja dan yeoja itu bersamaan. Sooji melemparkan tatapan membunuhnya pada namja itu. Sedangkan Myungsoo melemparkan senyum evilnya pada gadis di depannya.

“Siapa Jigie?” Nyonya bae yang mendengar pekikan itu segera berlari kecil menuju pintu rumah.

“Annyeonghaseyo” ucap Myungsoo yang raut wajahnya berubah menjadi ramah.

“Eh? Ada tamu? Ayo masuk” ucap Nyonya bae menarik tangan Myungsoo masuk di dalam rumahnya. Sooji hanya mendengus kesal namun tetap saja mengekor dari belakang. Kini mereka sudah ada di meja makan.

“Eomma membuat puding. Ia menyuruhku memberinya pada ajuma, semoga ajuma suka ne” ucap Myungsoo menyerahkan sepiring puding cokelatnya sambil tersenyum.

“Aigo, jangan panggil ajuma. Panggil saja eommonim ne?” Ucap Nyonya bae tersenyum.

“Eomma, dia orang asing. Ia tak cocok memanggilmu eommonim” ucap Sooji kesal.

“Heish, dia kan tetangga kita. Wajar saja kalau kita menjalin hubungan saudara kan?” Jelas Nyonya bae dan disetujui anggukan dan senyuman oleh Myungsoo.

“Dasar bermuka dua” desis Sooji dalam hati.

“Siapa namamu?” Tanya Nyonya bae penasaran.

“Myungsoo. Kim Myungsoo” jawab Myungsoo.

“Waah, nama yang bagus” ucap Nyonya bae.

“Issh, menurutku biasa saja” batin Sooji.

“Tunggu sebentar ne. Aku pindahkan dulu pudingnya” ucap Nyonya bae menuju dapur.

Di meja makan hanya tinggal Sooji dan Myungsoo, Sooji menatap Myungsoo dengan tajam, namun sepertinya namja itu tak terpengaruh dan justru meleparkan senyum evilnya.

“Oh iya, sekarang umurmu berapa?” Tanya Nyonya bae sambil memindahkan kue yang dibuatnya ke piring Myungsoo.

“18 tahun eommonin. Sekarang sudah kelas dua sma” jelas Myungsoo.

“Jjinja? Sekolah di mana?” Tanya Nyonya bae lagi.

“Woolim high school” jawab Myungsoo.

“Jjinjayo? Aigo, ternyata kau satu sekolah dengan putri eommomim. Ah aku sampai lupa, Sooji ayo kenalkan dirimu” ucap Nyonya bae yang sudah sampai di meja makan.

“Bae Sooji” ucap Sooji cuek.

“Heish, anak ini. Bersikap sopanlah padanya” gerutu Nyonya bae.

“Huuft, annyeonghaseyo, choneun bae Sooji imnida” ucap Sooji memperlihatnya senyum yang dipaksakan. Ia mengulurkan tangannya

“Sepertinya kau sudah mengenalku. Jadi aku tak perlu mengatakannya kan?” Jawab Myungsoo, ia bahkan tak membalas uluran tangan Sooji, membuat Sooji mendecik kesal.

“Eh? Bagaimana bisa?” Tanya Nyonya bae heran.

“Kami sekelas eommonim” jawab Myungsoo yang lagi-lagi melemparkan senyumnya yang sangat dibenci Sooji itu.

“Waah, baguslah. Bukankah itu artinya kalian bisa pergi dan pulang sekolah bersama?” Ucap Nyonya bae tersenyum senang.

“Maldo andwe! Aku tidak mau” ucap Sooji datar.

“Kau ini…ah iya, Myungsoo ige, kebetulan aku membuat brownis. Berikan ini pada ibumu ne, dan beritahu padanya bahwa aku sangat berterima kasih” jelas Nyonya bae.

“Baik eommonim. Aku pergi dulu ne” ucap Myungsoo tersenyum.

***

Sooji merebah tubuhnya di ranjang empuknya. Pikirannya masih tertuju pada namja yang menjadi tamu tak diundang itu.

“Dia benar-benar menyebalkan. Bersikap ramah pada eommaku dan bersifat menyebalkan pada putrinya? Aigo, dasar bermuka dua” gerutu Sooji sambil memeluk erat gulingnya.

Tok..

“Suara apa itu?” Sooji mengernyitkan dahinya. Tak salah lagi, itu pasti suara lemparan batu. Sooji beranjak dari ranjangnya lalu membuka jendela kamarnya.

“Apa seseorang baru saja melempar batu di jendelaku?” Tanya Sooji pada dirinya sendiri, ia mengedarkan pandangannya, matanya berubah sinis melihat sosok namja yang berdiri di depan jendela sebuah rumah yang berada tepat di samping kanan rumahnya, jendela itu berada tak jauh dari jendela kamarnya, mungkin sekitar 10 meter.

“Yaak, mwoya?!” Sooji melihat namja itu. Lagi.

“Molla. Hanya bersenang-senang” jawab namja itu-Myungsoo-dengan wajah santai.

“Yaak, kalau jendela kamarku pecah kau harus ganti rugi” ucap Sooji ketus.

“Yaak, murid pindahan. Batu kerikir sekecil ini tidak akan bisa memecahkan jendelamu, pabo” ucap namja itu.

“Yaak, Sooji! Bae Sooji! Namaku bukan murid pindahan! Dan jangan pernah mengataiku pabo!” Ujar Sooji kesal.

“Memang benar kan? Kau ini memang murid pindahan. Dan satu lagi, kau memang pabo. Buktinya saat kuis dari Kang saem waktu itu aku menang darimu kan?” Jelas namja itu menampakkan wajah sombong.

“Aigo, kau ini sombong sekali. Berbeda satu poin saja sudah dibanggakan” ucap Sooji meledek.

“Satu poin atau dua poin, yang jelas aku menang darimu kan?” Ucap Myungsoo santai.

“Lihat saja nanti, aku pasti bisa mengalahkanmu di setiap pelajaran!” Ujar Sooji mengepalkan tangan kanannya bermaksud bersungguh-sungguh.

“Kita lihat saja. Sampai jumpa, sainganku” ucap Myungsoo lalu menutup jendela kamar dan juga hordennya.

“Ch, dasar sombong!” Gerutu Sooji.

***

“Wuaaah” Sooji melentangkan tangannya dan menghirup udara di sekitarnya, sekarang ia berada di atap sekolah. Ga young dan Eunji sempat mengajaknya ke kantin, tapi ia menolaknya. Ia ingin ke tempat ini, tempat yang menjadi favoritnya, terkadang ia tak ke tempat ini karena namja itu, Myungsoo.

Biasanya ia mengendap-ngendap mengecek apakah Myungsoo ada di atap sekolah atau tidak, bila namja itu sedang ada di sini terpaksa Sooji mengurungkan niatnya ke tempat ini, ia tak ingin bertemu dengan namja itu. Tapi hari ini sepertinya menjadi hari keberuntungannya, namja itu tidak ada di atap sekolah. Jadi ia bisa leluasa menikmati pemandangan sekolah dan udara segar sekolahnya.

Sooji mengeluarkan earphone miliknya dan menyambungkannya pada ponselnya untuk mendengar musik.

(ost. to the beautifull you)

Ireoke sumanheun saramdeul junge neoyeoseo

Gateun sesang sumanheun inyeon junge neoraseo

 

Eonjena nal jikyeojuneun

Naboda deo nal manhi saranghaejuneun saram

Bogo isseumyeon geunyang useum naneun saram

Sooji bersenandung menikmati irama musik yang didengarnya. Sampai kemudian matanya menangkap sosok namja, namja yang sebenarnya tak ingin ia liat hari ini, cukup hanya di kelas ia ingin melihatnya. Kim Myungsoo. Namun namja itu tak sendiri, di samping kiri kanannya sudah ada dua orang yeoja. Yeoja itu sedang menyuapinya makanan yang menurut Sooji adalah bekal yang dibuat oleh yeoja itu, sedangkan samping kirinya ada yeoja yang sedang mengipasinya. Mereka bertiga sedang duduk di bangku taman belakang sekolah tepat di bawah pohon.

“Aaah” yeoja itu memasukkan makanan ke dalam mulut Myungsoo sambil tersenyum manja.

“Masshitta?” Tanya yeoja itu.

“Ne, masshitta, kau yang membuatnya?” Tanya Myungsoo tersenyum.

“Geureom, aku memasaknya khusus untukmu oppa” ucap yeoja itu dengan aegyonya.

“Oppa, nanti sore kita pergi kencan ne” ucap yeoja yang satunya sambil bergelayut manja di lengan Myungsoo.

“Baiklah” ucap Myungsoo santai.

“Oppa, bagaimana denganku?” Tanya yeoja yang membawakan bekal untuk Myungsoo.

“Bukankah kemarin kita sudah berkencan? Lain kali saja ne” ucap Myungsoo tetap memberikan senyuman termanisnya pada kedua yeoja itu.

“Arraseo, yaksok?” Tanya yeoja itu dan dijawab anggukan dan senyuman oleh Myungsoo.

“Aigo, namja seperti dia apa bagusnya?” Ini sudah yang kesekian kalinya Sooji bergidik ngeri melihat tingkah kedua yeoja pada namja itu.

Sooji yang memperhatikan namja itu, tak sadar bahwa ternyata namja itu juga melihatnya. Detik berikutnya Sooji sadar, ia segera menundukkan badannya agar tak terlihat oleh namja itu.

“Pabo Sooji!” Sooji memukul kepalanya karena kesal, ia bersandar di tembok itu sambil menenangkan pikirannya.

“Apa dia tau aku melihatnya? Heish, jangan sampai ia berpikir aku seorang penguntit” ucap Sooji sambil membayangkan wajah menyebalkan namja itu.

Menit berikutnya, perlahan Sooji berdiri untuk melihat apakah namja itu masih memperhatikannya atau tidak. Sooji mengernyitkan alisnya saat tak ada seorang pun di bangku itu.

“Di mana dia? Apa sudah pergi?” Sooji mengerdarkan pandangannya di taman itu. “Seperti sudah pergi, huuft semoga saja ia tak melihatku tadi” ucap Sooji menghela napas lega.

“Mencari seseorang?” suara itu tiba-tiba mengejutkan Sooji.

“Ah Gabchagi” Sooji mengelus dadanya karena kaget, matanya melotot saat melihat siapa orang yang mengagetkannya.

“N..neo..” Sooji gelagapan.

“Myungsoo, Kim Myungsoo. Itu namaku” ucap namja itu memperlihatkan senyum evilnya.

“K..kenapa kau di sini?” Sooji terlihat gugup.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau di sini?” Myungsoo menatap Sooji dengan wajah menyelidik. Sooji yang melihat tatapan namja itu segera menundukkan kepalanya.

“I..itu..emm…ah aku mencari udara segar” jawab Sooji akhirnya mendapat alasan.

“Jjinja? Bukankah kau sedang memperhatikanku dari sini?” Myungsoo mendekatkan wajahnya dengan Sooji membuat Sooji merasa tertekan.

“S..siapa yang bilang? Aku..aku benar-benar menikmati udara di sini. Dan tadi itu…aku tak sengaja. Sumpah, aku tak bermaksud memperhatikanmu” jelas Sooji memperlihatkan tangan kanannya berbentuk V. Myungsoo terkekeh melihat tingkah yeoja itu.

“Wajahmu memerah, apa itu karena kau gugup?” Tanya Myungsoo santai

“Ani. Itu..karena udara, ya udaranya dingin jadi wajahku memerah” jelas Sooji.

“Jjinja?” Myungsoo menatap Sooji dengan wajah menyelidik.

Teng teng teng teng teng

“Ah, sudah waktunya masuk. Aku pergi” Sooji segera berjalan meninggalkan namja itu. Ia menghela napas lega karena bel itu baru saja menyelamatkannya.

***

Bel telah berbunyi untuk mengakhiri pelajaran hari ini, Sooji mengemasi buku-bukunya lalu menyeimbangkan langkahnya dengan kedua temannya.

“Aku duluan ne” ucap Ga young menghentikan langkahnya saat mereka sudah di ujung koridor kelas.

“Eh?  Kau tak ikut denganku? Bukankah kita searah?” Tanya Sooji yang ikut menghentikan langkahnya.

“Kau seperti tak tau Ga young saja?” Ucap Eunji santai, Ga young hanya tersenyum malu.

“Lama menunggu?” Seorang namja baru saja berhenti tepat di samping mereka.

“Ani, kajja oppa” ucap Ga young merangkul tangan Changmin. Lalu meninggalkan kedua temannya. “Aku duluan ne” ucap Ga young meninggalkan mereka.

“Heish, anak itu. Mentang-mentang sunbaenya sudah datang, ia sudah melupakan temannya” gerutu Eunji.

“Makanya, pacaran saja” ucap Sooji terkekeh.

“Andwe, aku tidak mau. Lagipula siapa namja yang mau denganku?” Ucap Eunji santai.

“Yoseob?” Ucap Sooji menebak.

“Aigo, namja sinting itu? Maldo andwe!” Ketus Eunji sedangkan Sooji hanya terkekeh

Saat sampai di gerbang sekolah, Sooji dan Eunji berpisah karena rumah mereka memang berlawanan arah.

“Sampai jumpa” ucap Eunji berbelok ke kanan sedangkan Sooji berbelok ke kiri.

Sooji sudah berada di dalam bus sekarang, seperti biasanya ia akan memilih kursi paling belakang milik bus.

TBC
don’t be silent readers, please ^^

MYUNGZY Fanfic MY LOVELY GIRL Chapter 1

Made : 2 Mei 2014

Author : Arwiny Ramadhani

Genre : Comedy, Romance and School life

Main Cast :
–  Bae Suzy Miss A aka Bae Sooji
– L Infinite akas Kim Myungsoo

Other cast:
Find by yourself ^-^

The story : Inspired by a song

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Untuk tokoh Bae Suzy, Kim Myungsoo dan artis lainnya bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga dan agensi mereka. Author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.

Happy reading all..!!  ^-^9

And Sorry for typos 😀

CHAPTER 1

“Heish, anak ini kebiasaan” gerutu seorang yeoja berusia sekitar 40-an, sedari tadi ia terus membangunkan putri semata wayangnya namun belum juga ada tanda-tanda ia akan bangun.

“Soojigie..!! Ireona..!” Pekik wanita itu lagi tepat di telinga putrinya.

“Aigo eomma, kau tega sekali, kau ingin anakmu tuli, eoh?” Gerutu Sooji gadis yang dibangunkan itu. Perlahan ia duduk di ranjangnya sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.

“Ckckck, cepat mandi, jangan sampai kau terlambat ke sekolah” ucap wanita itu lalu beranjak keluar dari kamar putrinya. Sooji berjalan malas menuju kamar mandi, berpakaian lalu memperhatikan kembali penampilannya di depan cermin.

“Ternyata aku cantik juga. Tak kalah cantik dengan visual Miss A itu” ucap Sooji memperhatikan wajahnya sambil tersenyum. Rambut panjang dan bergelombangnya di biarkan terurai panjang dan dihiasi bandana cokelat yang senada dengan warna jas dan rok dari seragam sekolahnya.

“Ayo makanlah” Nyonya bae baru saja mengolesi roti dengan selai lalu menyimpannya di piring Sooji.

“Appa, kau mau ke mana? Kau tak menungguku?” Tanya Sooji sambil mengunyah rotinya saat melihat appanya menyudahi makannya dan berdiri.

“Mianhe Sooji-ah, appa tidak bisa. Ini hari pertama appa bekerja di sana. Appa harus pergi lebih awal. Kau naik bus saja ne” ucap Tuan bae mengelus puncak kepala putrinya lalu mencium kening istrinya.

“Aku pergi dulu ne” ucap Tuan bae seraya keluar dari rumah. Keluarga Bae baru saja pindah dua hari yang lalu, mereka datang dari Gwangju, Tuan Bae pindah ke Seoul karena dipindah tugaskan. Alhasil Tuan bae mengajak keluarganya untuk pindah, begitupun dengan Sooji, ia harus pindah sekolah.

“Cepat habiskan sarapanmu dan pergi ke sekolah” ucap Nyonya bae yang membereskan sisa makanan.

“Ne eomma. Aku pergi dulu ne” ucap Sooji berpamitan.

“Hati-hati. Belajar yang rajin ne?” Ucap Nyonya bae mengantar kepergian Sooji.

***

Di sinilah Sooji berada, di dalam bus yang penghuninya lumayan banyak. Ia pun duduk di bangku paling belakang sebelah kanan bus, matanya menangkap sosok namja yang sedang duduk di ujung kursi di sisi yang lain. Namja itu sedang menutup matanya sambil mendengarkan musik dari headphonenya.

“Ch, pasti dia murid yang kurang beres di sekolahnya. Melihatnya tidur di bus, bukankah dapat disimpulkan bahwa dia murid yang malas?” Batin Sooji, ia tak begitu mengenali namja itu karena seragamnya tertutupi dengan jaket yang dipakainya. Namun akhirnya Sooji mengalihkan pandangannya ke arah jendela bus.

Dua puluh menit kemudian, bus itu berhenti, Sooji segera turun dan berjalan kaki sekitar sepuluh meter dari halte bus menuju sekolahnya. Ia pun berhenti dan memandang bangunan sekolah barunya, Woolim High School.

“Baiklah Sooji, tunjukkan kehebatanmu di sini” ucap Sooji mengepal kedua tangannya dengan semangat. Ia berjalan di koridor sekolah itu, setelah bertanya pada salah seorang siswi sekolah itu, akhirnya ia menemukan ruang guru dan mulai masuk ke ruangan itu.

***

Di ruang kelas, semua murid melakukan aktivitas mereka saat guru belum masuk, seperti biasa mereka sedang bercengkrama, bermain, internet-an dan sebagainya yang biasa dilakukan murid-murid sekolah pada umumnya.

Teng teng teng teng teng…

Bell tanda masuk sudah berbunyi membuat para guru bersiap menuju kelas yang akan mereka ajar. Begitupun dengan Shin saem, guru sekaligus wali kelas 2-1. Hoya sang ketua kelas memberi aba-aba pada seluruh murid untuk memberi hormat pada Guru mereka.

“Annyeong” sapa Shin saem memperlihatkan senyumnya. Di sisi lain para murid tengah berbisik-bisik.

“Siapa dia?”

“Murid baru?”

“Dia lumayan cantik”

“Dari sekolah mana ya?”

Kalimat itu diucapkan oleh murid-murid yang sedang memandang seorang yeoja yang sedang berdiri di belakang Shin saem.

“Hari ini kalian kedatangan teman baru, dia dari Gwangju. Di sekolahnya dulu ia menjadi salah satu murid yang sangat berprestasi, semoga kalian berteman baik dengannya. Ayo perkenalkan dirimu”

“Annyeonghaseyo, Choneun Bae Sooji imnida. Bangapseumnida” ucap Sooji membungkukkan sedikit kepalanya.

“Baiklah Sooji, kau duduk di sana ne” ucap Shin saem menunjuk bangku baru Sooji. Sooji menyipitkan matanya saat mulai berjalan ke bangku barunya ketika melihat seseorang yang tak asing lagi di matanya, bukan yeoja yang akan menjadi teman duduknya tapi namja itu, namja yang duduk tepat di belakang calon bangkunya (?)

Begitupun dengan namja itu, merasa diperhatikan ia juga ikut menatap si murid baru itu. Sooji segera mengalihkan pandangannya lalu tersenyum saat duduk di samping teman barunya.

“Annyeong, Eunji imnida” ucap yeoja yang mengucir rambutnya sambil mengulurkan tangannya.

“Annyeong, Sooji imnida” ucap Sooji membalas uluran tangannya.

“Aku Ga young, Moon Ga young” ucap yeoja yang duduk di depan yeoja yang bernama Eunji.

“Annyeong” balas Sooji tersenyum. “Ternyata segampang itu mendapatkan teman baru” batin Sooji.

Selama pelajaran berlangsung, Shin saem menjelaskan mengenai termodinamika kepada murid-muridnya. Sooji melirik ke samping kirinya.

“Waeyo? Neol appo?” Tanya Sooji melihat Eunji menekuk wajahnya di meja.

“Aku benci pelajaran eksakta” jawab Eunji cemberut.

“Kenapa? Bukankah eksakta melatih kerja otak?” Ucap Sooji.

“Chogiyo, ada masalah murid Bae?” Tanya Shin saem yang melihat Sooji berbicara saat ia menjelaskan.

“Ne? Aniyo saem” jawab Sooji.

“Kalau begitu, kerjakan soal di papan” ucap Shin saem menyerahkan spidol pada Sooji. Sooji beranjak dari kursinya dan mengambil spidol itu. Tak cukup dua menit soal itu telah selesai dikerjakannya.

“Jawabanmu benar Sooji” kalimat dari Shin saem sukses membuat seluruh isi kelas terperangah, pasalnya soal yang menurut mereka rumit itu mampu dijawab oleh Sooji tak cukup dengan dua menit.

“Gomapseumnida” ucap Sooji membungkukkan badannya lalu kembali ke tempatnya. Di sisi lain, murid-murid masih syok melihat kehebatan murid baru itu.

“Wah, sepertinya Kim Myungsoo punya saingan” ucap Shin saem terkekeh. Sooji hanya mengernyitkan alisnya. “Kim Myungsoo? Nugu?” Batin Sooji.

Bel telah berbunyi pertanda pelajaran pertama telah selesai dan dilanjutkan dengan pelajaran kedua.

“Baiklah, kita akhiri perjumpaan hari ini dan sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya” ucap Shin saem menutup kelas lalu berjalan keluar.

“Daebak Sooji-yah, kau ternyata pintar juga” puji Eunji kagum.

“Gomawo” balas Sooji.

“Shin Saem benar, kini Myungsoo sudah punya saingan sekarang” ucap Ga young yang berbalik ke arah mereka berdua.

“Kim Myungsoo? Siapa dia?” Tanya Sooji heran.

“Kau tak tau? Aigo kau tak mengenal namja sepopuler dia?” Tanya Eunji heran.

“Yaak, Sooji itu kan murid baru, pabo” ucap Ga young menjitak kepala Eunji.

“Ah iya ya” jawab Eun ji memperlihatkan sengirannya.

“Itu dia orangnya” ucap Ga young menunjuk seorang namja menggunakan dagunya.

“Mwo?” Sooji membulatkan matanya saat berbalik mengikuti arah pandang Ga young. Ternyata orang yang disebut-sebut Shin saem ternyata duduk tepat di belakangnya. Dan tak salah lagi bahwa namja itu adalah namja yang duduk di bus waktu itu.

“Yaak, pelankan suaramu. Jangan sampai ia mendengarnya” ucap Eunji memelankan suaranya.

“Apa dia benar-benar pintar?” Tanya Sooji heran melihat namja itu.

Menit berikutnya Kang Saem, guru mata pelajaran biologi masuk ke kelas 2-1.

“Annyeong yeorobeun” sapa Kang saem saat sudah berada di kursinya. Selama hampir satu jam ia menjelaskan mengenai sistem pencernaan. Murid-murid memperhatikannya, meski tak begitu semangat namun ini lebih mendingan dibandingkan pelajaran Shin saem sebelumnya.

“Baiklah, aku akan memberikan kuis pada kalian, jadi kuberi waktu sepuluh menit untuk membaca materi yang tadi kusampaikan” jelas Kang saem.

“Aigo, sepuluh menit saja mana cukup” gerutu Eunji membaca bukunya dengan malas.

“Tenang saja, sepuluh menit cukup. Di sekolahku dulu guru bernama Lee saem bahkan hanya memberi waktu lima menit” jelas Sooji polos.

“Jjinja? Aigo” Eunji menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ayo, kita pelajari. Gunakan waktu sebaik mungkin” ucap Sooji memberi semangat.

10 menit kemudian.

“Baiklah. Tutup buku kalian” ucap Kang saem sontak membuat para murid menggerutku kesal karena belum sempat mempelajari materi secara keseluruhan.

“Bila ada yang tahu jawabannya, acungkan tangan kalian ne” ucap Kang saem mulai membuka bukunya sambil mencari-cari pertanyaan yang cocok.

“Pertanyaan pertama. Enzim yang berfungsi mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan pankreas adalah?” Tanya Kang saem sambil memandang muridnya. Sedangkan murid terlihat sedang berpikir.

“Murid Bae, silahkan” ucap Kang saem, membuat seluruh mata di kelas berbalik melihat si pemilik nama.

“Enzim entrokinase?” jawab Sooji yang penasaran dengan hasilnya

“Benar. Satu poin untuk murid Bae Sooji”

“Waaah” murid-murid terlihat takjub mendengar jawaban Sooji yang benar.

“Pertanyaan kedua, nama lain lipatan yang ada di dalam ileum?” Tanya Kang saem mengucapkan pertanyaannya.

“Silahkan Myungsoo” murid kembali menatap nama yang disebut saat namja itu mengacungkan tangannya. Begitupun dengan Sooji sejenak ia berbalik dan melihat wajah namja itu.

“Vili” jawab Myungsoo santai.

“Benar. Satu poin untuk Myungsoo” jawab Kang saem lagi.

“Selanjutnya, Penyakit yang disebabkan oleh udara yang berlebihan dalam paru-paru?”

“Empisemia paru-paru” jawab Sooji, dan lagi-lagi benar.

“Zat yang dapat disaring oleh ginjal?”

“Asam amino, urea, garam, greatinin dan greatin” ucap Myungsoo dan mendapat tatapan takjub dari murid-murid.

Pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh Kang saem, dan sepertinya hanya Sooji dan Myungsoo saja yang terus menerus menjawabnya ^^

“Baiklah, kuisnya sudah selesai. Ingat pelajari kembali materi yang sudah saya ajarkan ne” ucap Kang saem

“Ne” jawab murid-murid yang sebenarnya malas menjawab.

“Kim Myungsoo, kau punya saingan baru ternyata” jawab Kang saem terkekeh sebelum pergi meninggalkan kelas.

“Baiklah, sepertinya dia memang hebat” batin Sooji.

***

“Ahh, akhirnya makan juga” Eunji berbinar menatap makan siangnya hari ini. Sekarang ia sedang duduk di salah satu bangku di kantin bersama Ga young dan Sooji.

“Kau melihat apa?” Ga young melambaikan tangannya di hadapan Sooji saat melihat yeoja itu diam.

“Dia” Sooji sedang memperhatikan namja yang baru saja masuk di kantin, ia tak sendiri banyak yeoja yang terus menerus mengikutinya.

“Oppa, kau makan denganku kan?”

“Andwe, aku yang mengajaknya lebih dulu”

“Yaak, aku duluan”

“Heish, oppa akan makan denganku”

Ucapan-ucapan yeoja itu membuat namja yang berada di tengah-tengah hanya diam tak merespon, ia segera duduk di samping temannya, Yoseob.

“Aigo, hentikan. Apa kau tak kasian dengan Myungsoo? Dia kesulitan makan, arra?” Omel Yoseob, ia heran melihat temannya itu diganggu oleh banyak yeoja namun sepertinya temannya sendiri tak merespon dan hanya diam.

“Yaak, katakan sesuatu pada mereka. Aku tak bisa makan jika seperti ini” gerutu Yoseob.

“Arra. Permisi, aku ingin makan. Tolong jangan ganggu aku dulu ne?” Ucap Myungsoo memperlihatkan eyesmile.

“Omo! Neomu Kyeopta” ucap yeoja-yeoja itu menjerit melihat senyum Myungsoo.

“Arrayo, kami akan pergi. Nikmati makananmu ya oppa?” Ucap salah satu yeoja sambil tersenyum manja. Sooji yang melihatnya hanya bergidik ngeri.

“Hehehe…acuhkan saja. Pemandangan seperti itu sudah biasa di sekolah kami” ucap Eunji melihat ekspresi Sooji.

“Waeyo?”

“Kim Myungsoo, namja yang sudah hampir mencapai tingkat kesempurnaan. Kaya, tampan dan hebat dalam semua bidang. Hebatkan?” Ucap Eun ji.

“Jangan lupakan kata playboynya” ucap Ga young meralat.

“Mwo?” Sooji heran.

“Eo, kau lihatkan tadi? Banyak sekali yeoja yang mengikutinya. Ya, walaupun tak ada satupun dari mereka yang menjadi yeojanya, tapi Myungsoo selalu melayani mereka bila diajak berkencan” jelas Eunji.

“Ckckck, percuma saja ia kaya, tampan dan hebat dalam segala hal jika dia playboy, itu tidak ada gunanya” ucap Sooji mengeluarkan pendapatnya lalu melanjutkan makannya.

***

Sooji sedang menikmati sejuknya angin musim semi di atap sekolah. Sepertinya ini akan menjadi tempat favoritnya bila sedang bosan. Bersandar di kotak pembangkit listrik yang sudah aman sungguh nyaman.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Perlahan Sooji membuka matanya dan melihat sosok namja sudah berdiri tepat di depannya.

“Neo..” Sooji segera berdiri dan membersihkan roknya.

“Murid pindahan Bae Sooji, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya namja itu -Myungsoo- dengan wajah menyelidik.

“Hanya menikmati tiupan angin. Wae?” Tanya Sooji santai.

“Ini tempatku, apa kau tidak tau itu?”

“Tempatmu?” Sooji bingung.

“Ah, arrayo. Kau ke sini karena ingin dekat denganku kan?” Myungsoo melangkahkan kakinya mendekati Sooji, Sooji yang melihat senyuman evil namja itu segera mundur setiap kali namja itu melangkah.

“Ani, untuk apa aku melakukannya? Aku bukan yeoja seperti mereka” jawab Sooji gelagapan.

“Jjinja? Jangan berbohong. Bukankah kau ke sini karena ingin menjadi teman bermesraanku kan?” Tanya Myungsoo santai.

“Yaak, jangan sembarangan berbicara” ucap Sooji yang sebenarnya sedang canggung sekarang.

“Kenapa tidak jujur saja, eoh?” Myungsoo semakin melangkahkan kakinya mendekati yeoja itu. Sooji yang tak tau apa-apa, hampir saja terjatuh dari atap sekolah karena tembok pembatas itu hanya setinggi perutnya saja. Sooji menutup matanya.

“Kenapa tidak sakit?” Batin Sooji, ia membuka matanya saat merasakan sesuatu menahannya. “Omo! Kenapa dekat sekali” pekik Sooji dalam hati. Matanya membulat saat melihat wajah namja itu hanya sekitar beberapa senti dari wajahnya, dan tangan kekarnya menahan badan Sooji.

“Yaak, mwoya?!” Sooji segera mendorong tubuh Myungsoo dan melangkah mundur.

“Bukankah aku baru saja menolongmu?” Tanya Myungsoo dengan wajah polos.

“Ch, neo…kau pikir aku tak tau, eoh? Dasar namja yadong” ucap Sooji berjalan meninggalkan Myungsoo, sedangkan namja itu hanya tersenyum simpul.

***

Sooji mendaratkan pantatnya di bangkunya dengan kasar, membuat kedua temannya mengernyitkan alisnya.

“Sooji-ah, ada apa?” Tanya Eunji teman bangkunya.

“Namja itu….dia menyebalkan, dasar yadong” ujar Sooji sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Nugu?” Tanya Ga young bingung siapa namja yang dimaksud Sooji.

“Siapa lagi? Tentu saja Kim Myungsoo” jawab Sooji.

“Ckckck, biarkan saja. Dia memang seperti itu” ucap Ga young yang sudah tau bagaimana sifat seorang Kim Myungsoo.

***

“Bagaimana harimu?” Nyonya bae sedang memasak untuk makan siang.

“Lumayan” Sooji langsung duduk di kursi makan dengan malasnya.

“Waeyo? Apa terjadi sesuatu yang buruk di sekolah?” Nyonya bae berjalan dan duduk di samping putrinya.

“Aku bertemu dengan namja aneh, eomma. Dan yang lebih parahnya ia menjadi teman kelasku” gerutu Sooji masih menundukkan kepalanya di meja makan.

“Jjinja? Aigo, jangan terlalu dipikirkan ne” ucap Nyonya bae sambil mengelus rambut putrinya.

***

“Aku pulang” namja itu masuk ke dalam rumahnya, merebah tubuhnya di sofa depan tvnya.

“Ah, kebetulan kau datang. Ige, berikan pada bibi Hyo jo ne” ucap Nyonya kim seraya memberikan sepiring puding cokelat kepada Myungsoo.

“Bibi Hyo jo? Siapa dia?” Tanya Myungsoo bingung.

“Dia tetangga sebelah. Dia baru pindah dua hari yang lalu” jawab Nyonya kim.

“Naega wae? Mana Jong in?” Tanya Myungsoo mencari namdongsaengnya yang masih kelas 4 sd.

“Dia sedang tidur. Palli” ucap Nyonya kim menarik tangan putranya agar berdiri.

“Arraseo” Myungsoo mengambil piring itu seraya berjalan keluar rumah dengan wajah malas.

“Heish, biasanya Kim Jong in itu yang melakukannya” gerutu Myungsoo saat mulai keluar dari rumahnya.

Deng dong…

“Sooji-ah, ada tamu cepat buka pintunya” ucap Nyonya Bae saat mendengar bel rumahnya terdengar.

“Aigo eomma, aku baru saja pulang. Aku masih lelah” ucap Sooji masih menekuk wajahnya di meja makan.

“Heish, anak ini malas sekali. Palli” ucap Nyonya bae mengguncang tubuh putrinya.

“Arraseo” Sooji berjalan dengan malas menuju pintu.

Cklek…

“Neo..” Pekik namja dan yeoja itu bersamaan.

TBC
don’t be silent readers, please ^^